• MTs. Darun Najah
  • Religius, Terampil, Berprestasi, dan Berakhlaqul Karimah.

Desa Pamali

DESA PAMALI

Karya: M. Aji Pratama (Kelas 8)

Di tengah hutan yang lebat, jauh dari hiruk-pikuk kota, berdirilah sebuah desa terpencil yang dikenal dengan nama Desa Pamali. Desa itu terkenal karena berbagai pantangan yang diwariskan turun-temurun. Penduduk percaya, siapa pun yang melanggar pamali akan mendapat musibah yang mengerikan.

Suatu hari, empat remaja bernama Risky, Alif, Klara, dan Efi datang ke desa tersebut. Mereka ditugaskan membantu warga yang sedang dilanda wabah penyakit misterius. Penyakit itu menyebar begitu cepat. Hampir setiap hari ada warga yang meninggal dunia.

Malam pertama, Risky dan Alif mendapat tugas menggali kuburan untuk jenazah yang baru dimakamkan.

Udara malam begitu dingin. Kabut menyelimuti pemakaman, sementara suara burung hantu terdengar dari kejauhan.

Saat mereka menggali tanah, tiba-tiba terdengar suara siulan dari balik pepohonan.

Risky menghentikan ayunan cangkulnya.

"Alif... kamu dengar itu?"

Alif mengangguk pelan.

"Iya... suara itu semakin dekat."

Mereka saling berpandangan dengan wajah pucat.

Di Desa Pamali ada satu larangan yang paling ditakuti: jangan pernah bersiul pada malam hari, terutama ketika ada orang yang meninggal.

Meski dihantui rasa takut, mereka tetap menyelesaikan tugas hingga pemakaman selesai.

Keesokan harinya, Klara dan Efi bertugas di ruang jenazah.

Klara membersihkan tubuh jenazah, memberi kapas, dan mengoleskan minyak sebagaimana tradisi desa. Sementara Efi membantu menyiapkan perlengkapan pemulasaraan.

Menjelang malam, Efi bertemu seorang anak kecil yang berjalan sambil bersiul.

"Apa kamu tidak tahu kalau bersiul di malam hari itu pamali?" tanya Efi.

Anak itu tersenyum tipis.

"Di desa ini... pamali justru sudah menjadi kebiasaan."

Jawaban itu membuat bulu kuduk Efi meremang.

Tak lama kemudian, anak itu membuka payung di dalam rumah.

"Jangan! Membuka payung di dalam rumah juga pamali," kata Efi.

Anak itu hanya menatapnya.

"Kalau semua pamali dipatuhi, mungkin desa ini tidak akan pernah berubah."

Ucapan itu terus terngiang di kepala Efi.

Hari keempat, Klara kembali bertugas seorang diri di ruang jenazah.

Saat membuka kain penutup wajah mayat, ia terkejut melihat wajah jenazah dipenuhi luka menghitam, sementara perutnya membengkak dan bernanah.

Bau busuk memenuhi ruangan.

Malam itu Klara tidak bisa memejamkan mata.

Bayangan wajah mayat itu terus menghantuinya.

Hari kelima, anak kecil itu datang lagi.

"Kak... tolong ibuku."

Tanpa ragu Klara mengikuti anak tersebut menuju sebuah gubuk di pinggir hutan.

Di sana ia menemukan seorang wanita yang tubuhnya dipenuhi luka akibat wabah.

Klara berusaha mengobatinya semampunya.

Wanita itu menggenggam tangan putranya.

"Nak... kalau Ibu meninggal nanti... jangan menangis terlalu lama."

Anak itu langsung memeluk ibunya.

"Jangan bilang begitu, Bu... Jangan tinggalkan aku sendirian."

Air mata Klara menetes.

Ia sadar penyakit itu sudah terlalu parah.

Malam berikutnya, Klara kembali memasuki ruang jenazah untuk mengganti kain penutup salah satu mayat.

Dengan perlahan ia membuka penutup wajah jenazah.

Tiba-tiba...

Mata jenazah itu terbuka.

Tubuhnya bangkit perlahan sambil menatap Klara dengan senyum mengerikan.

Klara berteriak dan berlari menuju pintu.

Namun pintu itu terkunci rapat.

"Tolong! Tolong aku!"

Saat menoleh ke belakang, ruangan itu telah berubah.

Puluhan mayat berdiri mengelilinginya.

Mata mereka kosong.

Tubuh mereka penuh luka.

Semua berjalan perlahan menuju Klara.

Tiba-tiba pintu terbuka sendiri.

Klara mencoba melarikan diri.

Namun sesuatu mencengkeram pergelangan kakinya.

Ia terjatuh.

Puluhan tangan pucat menarik tubuhnya ke dalam kegelapan.

Jeritannya menggema sebelum akhirnya lenyap ditelan malam.

Keesokan paginya, warga menemukan jasad Klara di halaman rumah duka.

Wajahnya dipenuhi luka, matanya terbuka lebar seolah menyimpan ketakutan yang luar biasa.

Risky, Alif, dan Efi menangis kehilangan sahabat mereka.

Malam harinya, Risky dan Alif kembali menggali kuburan untuk memakamkan Klara.

Namun Risky tidak sanggup menahan rasa takut.

"Aku pulang dulu, Lif."

Kini Alif sendirian.

Saat hendak pulang, ponselnya berdering.

Ia berjalan menuju sumur tua untuk mencari sinyal.

Tanpa diduga, sebuah tangan hitam muncul dari dalam sumur.

Brak!

Alif ditarik masuk.

Jeritannya menghilang bersama gelapnya malam.

Ketika Risky kembali, ia hanya menemukan ponsel Alif di pinggir sumur.

Saat mengintip ke dalam, tubuh Alif terlihat mengambang dengan mata terbuka.

Risky terduduk lemas.

Kini hanya dirinya dan Efi yang tersisa.

Sementara itu, ibu dari anak kecil tadi semakin kritis.

Tengah malam, ia melihat sosok pocong berdiri di balik jendela.

Ia segera menutup gorden.

Namun sosok itu tiba-tiba telah berada tepat di depannya.

Lidah panjang makhluk itu masuk ke dalam mulut sang ibu.

Wanita itu menjerit kesakitan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Anak kecil itu menangis histeris.

Ia melihat bayangan kedua orang tuanya datang menghampiri.

Dengan penuh harapan ia memeluk mereka.

Namun wajah kedua sosok itu perlahan berubah menjadi makhluk mengerikan.

Anak itu berlari ketakutan mencari Efi.

"Kak Efi... kita harus pergi! Desa ini sudah tidak aman!"

Efi mengangguk.

"Ayo. Kita keluar dari desa ini sekarang juga."

Mereka berdua berlari menembus hutan.

Namun puluhan pocong menghadang jalan mereka.

Saat berusaha menyelamatkan diri, mereka terjatuh ke sebuah jurang dangkal.

Di antara semak-semak, Efi menemukan sebuah buku tua.

Di sampulnya tertulis:

"Kitab Mantra Penolak Arwah."

Dengan tangan gemetar, Efi membaca mantra yang tertulis di halaman terakhir.

Seketika angin berembus sangat kencang.

Cahaya putih memancar dari kitab itu.

Puluhan pocong menjerit sebelum akhirnya menghilang satu per satu.

Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Efi dan anak kecil tersebut untuk melarikan diri.

Mereka terus berlari hingga tiba di sebuah sungai yang membatasi Desa Pamali dengan dunia luar.

Sebuah jembatan kayu membentang di hadapan mereka.

Anak kecil itu berhenti.

"Kak... sekarang aku sendirian. Aku sudah tidak punya siapa-siapa."

Efi menggenggam erat tangan anak itu.

"Mulai hari ini kamu ikut denganku. Nenekku pasti akan menerima dan menyayangimu seperti cucunya sendiri."

Anak kecil itu menangis sambil mengangguk.

Mereka pun menyeberangi jembatan dan meninggalkan Desa Pamali untuk selamanya.

Konon, hingga

kini Desa Pamali masih berdiri di tengah hutan.

Pada malam-malam tertentu, suara siulan masih terdengar dari balik pepohonan.

Penduduk sekitar percaya...

Siapa pun yang mengikuti arah suara itu...

Tidak akan pernah kembali.

 

TAMAT

 

Tulisan Lainnya
Akibat Terlalu Sering Nonton Film Horor

Karya: M. Azzam Ghazy | Kelas 8   Aulia adalah seorang anak yang sebenarnya cukup berani. Namun, ia memiliki satu kebiasaan yang sulit ditinggalkan: menonton film horor. Hampir

10/08/2026 12:33 - Oleh Administrator - Dilihat 42 kali
Rumah Masa Kecilku yang Ditinggalkan

Penulis: Ahmad Syauqy Rahman dan Andhika Syande Pratama Pada suatu hari, hiduplah sepasang suami istri yang sedang berbahagia karena baru saja dikaruniai seorang anak laki-laki. Bayi i

09/06/2026 09:45 - Oleh Administrator - Dilihat 117 kali
Saat Malam Hari Raya Idul Fitri

Karya: Muhammad Haudzil Ulum – Kelas 7B Pada suatu hari di bulan Ramadan, ada seorang anak bernama Rayyan. Ia dikenal sebagai anak yang ceria dan suka bermain bersama teman-teman

31/05/2026 09:12 - Oleh Administrator - Dilihat 114 kali
Legenda Batu Gantung

Karya: Ahmad Syauqy Rahman - Kelas 7A Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba, hiduplah sepasang suami istri sederhana. Mereka memiliki seorang anak perempuan b

26/05/2026 09:17 - Oleh Administrator - Dilihat 153 kali
Gunung Keramat

  Karya: M. Azzam Ghazy - Kelas: 7A   Akhir-akhir ini media sosial ramai membicarakan sebuah gunung yang katanya keramat. Banyak warga desa yang percaya, tetapi ada juga ya

21/05/2026 14:47 - Oleh Administrator - Dilihat 168 kali
Cinta Seangkatan

Karya: Gholib Munandar - Kelas 7A Ini adalah cerita ketika aku masih duduk di kelas 3 SD. Saat itu, aku sering mengobrol dengan teman-teman perempuan sekelasku. Namun, ada satu orang y

19/05/2026 05:40 - Oleh Administrator - Dilihat 128 kali
Menjelang Idul Adha

Karya: Muhammad Sudrajat Ibadillah - Kelas 7B Suatu sore, Bintang bermain bersama teman-temannya. Mereka berjalan-jalan sambil melihat hewan-hewan yang akan dikurbankan, seperti sapi d

12/05/2026 10:45 - Oleh Administrator - Dilihat 286 kali
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Kedua “Jejak Pena Anugerah”

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MTs Darun Najah Petahunan Sumbersuko Lumajang dalam bidang literasi. Setelah sebelumnya menerbitkan karya antologi puisi, kini kembali hadi

25/04/2026 18:17 - Oleh Administrator - Dilihat 197 kali
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Antologi Puisi “Sajak Rindu Santri” Karya Siswa-siswi

  MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi dengan menerbitkan sebuah buku antologi puisi berjudul Sajak Rindu Santri. Buku ini merupakan

22/04/2026 13:40 - Oleh Administrator - Dilihat 215 kali
Ibu, Buku Kehidupanku

  Karya: Maridabul Khumairoh – Kelas 8D   Ibu, engkau adalah buku segala ilmu, tempatku bertanya dan tempat semua masalahku bermuara. Engkau selalu tahu bagaiman

20/04/2026 10:41 - Oleh Administrator - Dilihat 125 kali